Skip links
Menstruasi Sebulan 2 Kali, Perlu Waspada?
Home / Edukasi / Siklus Menstruasi / Menstruasi / Menstruasi Sebulan 2 Kali, Perlu Waspada?

Menstruasi Sebulan 2 Kali, Perlu Waspada?

Ditulis: Tim Wilov
Ditinjau: dr. Hendri Antonius

Menstruasi sebulan 2 kali normal kah? Mungkin Ladies pernah atau sedang mengalami menstruasi sebulan 2 kali dan bertanya-tanya tentang bahaya atau tidaknya kondisi tersebut. Sebelumnya, perlu Ladies ketahui bahwa seorang wanita bisa dikatakan memiliki siklus menstruasi normal jika siklus tersebut berlangsung selama kurang lebih 28 hari, atau ada dalam rentang waktu 25 sampai 30 hari. Cara menghitung panjang siklus menstruasi dimulai dari hari pertama menstruasi (disebut sebagai hari-1) sampai sebelum hari-1 menstruasi berikutnya [1], [2] 

Jika panjang siklus menstruasi kurang dari 21 hari, maka Ladies mengalami kondisi yang disebut sebagai polimenorea [3]. Karena siklus menstruasi yang sangat pendek tersebut, tak heran jika sewaktu-waktu Ladies mengalami menstruasi sebulan 2 kali. Polimenore bisa jadi berhubungan dengan ketidaksempurnaan pada fase luteal di dalam siklus menstruasi, yaitu fase yang dimulai pada hari setelah ovulasi hingga hari sebelum menstruasi berikutnya dimulai [3].

Kondisi menstruasi sebulan 2 kali ini bisa dikatakan ada di luar pola menstruasi normal. Penyebabnya pun bisa sangat beragam:

  • Usia Muda [4]
    Wanita muda yang baru saja mengalami menstruasi kerap mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur. Selama masa pubertas, menstruasi bisa saja berlangsung dalam siklus yang lebih pendek atau panjang. Hal ini disebabkan oleh hormon di dalam tubuh wanita muda yang masih cenderung fluktuatif. Bahkan, penelitian mengindikasikan bahwa wanita muda bisa membutuhkan waktu hingga beberapa tahun sebelum akhirnya memiliki siklus menstruasi normal
  • Perimenopause [5], [6]
    Pada periode perimenopause atau menuju menopause, wanita juga mengalami fluktuasi hormon yang menyebabkan siklus menstruasi tak lagi senormal sebelumnya. Bisa jadi ia akan memiliki siklus menstruasi yang lebih singkat atau lebih lama. Menopause umumnya terjadi pada wanita usia 49-51 tahun (geriatri). Selain siklus menstruasi yang tak lagi normal, gejala lain yang umumnya dirasakan wanita adalah hot flashes atau sensasi panas tiba-tiba di tubuh, perubahan mood yang drastis, serta vagina yang kering.
  • Penggunaan Alat Kontrasepsi [7]
    Penggunaan alat KB spiral atau IUD juga bisa dipertimbangkan sebagai salah satu penyebab keluarnya darah dari vagina. Alat kontrasepsi yang dipasang di rahim ini berfungsi mencegah kehamilan dengan cara menghambat gerakan sperma menuju saluran rahim agar tidak terjadi pembuahan. IUD memiliki sejumlah efek samping seperti kram perut, keluarnya bercak darah di antara siklus menstruasi, hingga siklus menstruasi yang tidak normal.
  • Stres [8]
    Selain faktor yang bersifat fisik, tak tertutup kemungkinan bahwa menstruasi sebulan 2 kali disebabkan oleh faktor psikis yang memengaruhi kinerja hormon dalam tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa stres memiliki hubungan dengan gangguan menstruasi dan pola menstruasi yang tidak normal.

 

Pada dasarnya, untuk memahami gejala menstruasi apa pun yang terhitung tidak normal, sebaiknya Ladies memang berkonsultasi dengan dokter. Termasuk jika Ladies memiliki siklus di bawah 21 hari sehingga mengalami menstruasi sebulan 2 kali. Selain kondisi tersebut, beberapa kondisi di bawah ini juga bisa jadi acuan agar Ladies segera mengunjungi dokter [9]:

  • Siklus menstruasi tiba-tiba menjadi tak teratur dan Ladies masih berusia di bawah 45 tahun
  • Siklus melebihi 35 hari
  • Durasi menstruasi lebih dari 1 minggu
  • Ada perbedaan lebih dari 20 hari antara siklus menstruasi tersingkat dan terpanjang
  • Perdarahan haid yang sangat banyak dan sulit hamil

 

Maka, penting sekali bagi Ladies untuk mencatat setiap tanggal menstruasi agar mudah menghitung panjang siklus dan mengidentifikasi siklus yang tidak normal. Tak perlu repot, download saja aplikasi Wilov secara gratis di App Store dan Google Play Store. Selain menyediakan kalender menstruasi dan ovulasi yang sangat mudah dipakai, Wilov juga dilengkapi dengan informasi dan tips penting seputar kesehatan reproduksi wanita, lho. 

 

Referensi

[1] B. G. Reed and B. R. Carr, “The Normal Menstrual Cycle and the Control of Ovulation,” Endotext, Aug. 2018, Accessed: Dec. 31, 2021. [Online]. Available: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279054/.

[2] R. Ecochard, O. Duterque, R. Leiva, T. Bouchard, and P. Vigil, “Self-identification of the clinical fertile window and the ovulation period,” Fertil. Steril., vol. 103, no. 5, pp. 1319-1325.e3, 2015, doi: 10.1016/j.fertnstert.2015.01.031.

[3] J. Albers, S. K. Hull, and R. M. Wesley, “Abnormal Uterine Bleeding,” Am. Fam. Physician, vol. 69, no. 8, pp. 1915–1926, Apr. 2004, Accessed: Jan. 22, 2022. [Online]. Available: www.aafp.org/afp.

[4] L. A. Wise et al., “A Prospective Cohort Study of Menstrual Characteristics and Time to Pregnancy,” Am. J. Epidemiol., vol. 174, no. 6, pp. 701–709, Sep. 2011, doi: 10.1093/AJE/KWR130.

[5] “Abnormal Bleeding During Your Period,” Am. Fam. Physician, vol. 85, no. 1, pp. 44–44, Jan. 2012.

[6] B. J. Van Voorhis, N. Santoro, S. Harlow, S. L. Crawford, and J. Randolph, “The Relationship of Bleeding Patterns to Daily Reproductive Hormones in Women Approaching Menopause,” Obstet. Gynecol., vol. 112, no. 1, p. 101, Jul. 2008, doi: 10.1097/AOG.0B013E31817D452B.

[7] “What are the side effects of IUDs?” https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/iud/iud-side-effects (accessed Jan. 22, 2022).

[8] N. Rafique and M. H. Al-Sheikh, “Prevalence of menstrual problems and their association with psychological stress in young female students studying health sciences,” Saudi Med. J., vol. 39, no. 1, p. 67, Jan. 2018, doi: 10.15537/SMJ.2018.1.21438.

[9] “Irregular periods – NHS.” https://www.nhs.uk/conditions/irregular-periods/ (accessed Jan. 22, 2022).

Leave a comment