Skip links
Gangguan Siklus Menstruasi pada Wanita
Home / Edukasi / Siklus Menstruasi / Menstruasi / Gangguan Siklus Menstruasi pada Wanita

Gangguan Siklus Menstruasi pada Wanita

Ditulis: Tim Wilov
Ditinjau: dr. Hendri Antonius

Ladies, siklus menstruasi kita diatur oleh interaksi antara hormon-hormon reproduksi (hormon progesteron, estrogen, LH, dan FSH) yang menyebabkan pertumbuhan folikel, ovulasi, dan pembentukan korpus luteum [1]. Folikel adalah kantung cairan berisi telur di dalam indung telur, sementara korpus luteum adalah sebuah jaringan di dalam indung telur yang bertugas untuk memproduksi hormon progesteron dan estrogen untuk mempersiapkan kehamilan [2]. Jika kehamilan tidak terjadi, kadar hormon progesteron akan menurun sehingga lapisan endometrium di rahim yang telah menebal akan luruh dan terjadilah menstruasi. Siklus menstruasi umumnya berlangsung selama 28 hari terhitung dari hari pertama perdarahan sampai hari pertama perdarahan bulan berikutnya, Namun, lamanya bisa bervariasi mulai dari 21 sampai 35 hari [1].

Lebih jelasnya, terdapat empat tahapan dalam 1 siklus menstruasi adalah sebagai berikut: [3][4]

  1. Menstruasi
    Menstruasi adalah luruhnya lapisan rahim (endometrium) yang menebal. Lapisan tersebut keluar dari tubuh melalui vagina. Cairan menstruasi umumnya mengandung darah, sel-sel dari lapisan rahim (sel endometrium), dan lendir. Umumnya, perdarahan berlangsung selama 3 hari sampai 1 minggu.
  2. Fase Folikular
    Fase folikular dimulai pada hari pertama perdarahan menstruasi sampai hari terjadinya ovulasi. Otak memicu kelenjar pituitari untuk melepaskan hormon perangsang folikel (FSH). Hormon ini akan merangsang indung telur untuk menghasilkan 5-20 folikel. Folikel menampung telur yang belum matang. Pematangan telur umumnya terjadi pada hari ke-10 menstruasi (pada siklus 28 hari). Nah, pertumbuhan folikel ini juga merangsang penebalan lapisan rahim sebagai persiapan kehamilan.
  3. Ovulasi
    Ovulasi adalah proses pelepasan sel telur yang matang dari indung telur. Sel telur yang matang  bergerak ke tuba falopi menuju rahim. Masa hidup sel telur tersebut hanya sekitar 24 jam, dan akan mati jika tidak bertemu dengan sel sperma hidup. Ovulasi biasanya terjadi di pertengahan siklus, sekitar 14 hari sebelum  menstruasi berikutnya dimulai .
  4. Fase Luteal
    Sisa folikel di indung telur berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum mulai melepaskan hormon progesteron bersama dengan sejumlah kecil estrogen. Kombinasi hormon tersebut memelihara lapisan rahim yang menebal. Sel telur yang dibuahi akan menempel di sana (implantasi) sehingga terjadi kehamilan. Namun jika kehamilan tidak terjadi, korpus luteum akan menyusut, umumnya pada hari ke-22 dalam siklus 28 hari. Penurunan kadar progesteron menyebabkan lapisan rahim luruh sehingga terjadi menstruasi. Siklus kemudian akan berulang.

Siklus menstruasi merupakan hasil kerja sama yang rumit dari berbagai organ, hormon, dan fungsi tubuh. Tak heran jika wanita mungkin saja mengalami sejumlah gangguan saat melaluinya. Beberapa gangguan menstruasi yang umum terjadi adalah:

  • PMS
    Dinamika hormon progesteron, estrogen dan lainnya sebelum menstruasi bisa memicu sejumlah efek samping yang disebut sebagai sindrom pramenstruasi (PMS). Gejalanya bisa bermacam-macam mulai dari kelelahan, gangguan tidur, nyeri sendi dan otot, nyeri payudara, kembung, hingga mood yang naik turun. Pada beberapa wanita, gejala yang dirasakan jauh lebih parah dan serius sehingga disebut dengan Premenstrual dysphoric disorder (PMDD) [5]. PMS bisa ditangani dengan menjaga pola makan sehat dan berolahraga. 
  • Perdarahan Berat
    Ada kalanya, perdarahan menstruasi terjadi dengan sangat banyak dan intens. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan anemia. Konsultasikan segera dengan dokter jika Ladies mengalami ini. Dokter mungkin akan memberi pilihan pengobatan seperti kontrasepsi oral atau hormonal (IUD) [3]. 
  • Amenorea
    Amenorea adalah kondisi ketika seorang wanita tidak mengalami menstruasi sebagaimana seharusnya selain masa pra-pubertas, kehamilan, menyusui, dan pascamenopause. Amenorea primer terjadi pada wanita berusia 14–16 tahun yang tak juga menstruasi walaupun sudah memiliki tanda pubertas. Amenorea sekunder terjadi pada wanita usia subur yang sebelumnya sudah pernah menstruasi, tidak sedang hamil, tetapi tidak kunjung menstruasi selama 3 siklus berturut-turut atau lebih [6].
  • Dismenore
    Dismenore dikenal juga sebagai painful menstruation atau menstruasi yang menyakitkan. Diperkirakan, hormon tertentu memicu rahim untuk berusaha lebih keras meluruhkan lapisan di dinding rahim, sehingga terasa nyeri (deli). Namun, dismenore sekunder bisa disebabkan oleh endometriosis, kelainan anatomi panggul, atau infeksi [7]. 

Ladies, memantau siklus menstruasi bisa dilakukan dengan mudah, kok. Download saja aplikasi Wilov secara gratis melalui App Store dan Google Play Store. Wilov menyediakan kalender menstruasi dan ovulasi untuk membantu Ladies mencatat tanggal menstruasi dan gejala-gejala fisik maupun emosional sepanjang siklus. Tak hanya itu, Ladies juga bisa memperoleh informasi dan tips penting seputar kesehatan reproduksi wanita melalui aplikasi Wilov. Tunggu apa lagi? Download Wilov sekarang juga!  

 

Referensi

[1] “The menstrual cycle | You and Your Hormones from the Society for Endocrinology.” https://www.yourhormones.info/topical-issues/the-menstrual-cycle/ (accessed Dec. 31, 2021).

[2] “Progesterone | Hormone Health Network.” https://www.hormone.org/your-health-and-hormones/glands-and-hormones-a-to-z/hormones/progesterone (accessed Dec. 29, 2021).

[3] “Menstrual cycle – Better Health Channel.” https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/menstrual-cycle#common-menstrual-problems (accessed Dec. 31, 2021).

[4] B. G. Reed and B. R. Carr, “The Normal Menstrual Cycle and the Control of Ovulation,” Endotext, Aug. 2018, Accessed: Dec. 31, 2021. [Online]. Available: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279054/.

[5] “PMS and PMDD | Hormone Health Network.” https://www.hormone.org/diseases-and-conditions/pms-pmdd (accessed Dec. 24, 2021).

[6] E. Deligeoroglou and G. Creatsas, “Menstrual disorders,” Endocr. Dev., vol. 22, pp. 160–170, Jul. 2012, doi: 10.1159/000331697.

[7] “Dysmenorrhea – American Family Physician.” https://www.aafp.org/afp/2021/0800/p164.html (accessed Dec. 31, 2021).

Leave a comment