Skip links
Ingin Hamil? Suami Juga Perlu Cek Kesuburan!
Home / Edukasi / Kesuburan / Program Hamil / Ingin Hamil? Suami Juga Perlu Cek Kesuburan!

Ingin Hamil? Suami Juga Perlu Cek Kesuburan!

Ditulis: Tim Wilov
Ditinjau: dr. Hendri Antonius

Ladies yang sedang merencanakan kehamilan, sudahkah Anda menaruh perhatian pada kesuburan suami? Ternyata, ketidaksuburan pria adalah salah satu faktor yang memengaruhi hampir 50% pasangan infertil yang ingin punya anak di seluruh dunia [1]. Jangan sampai Ladies menjadi satu-satunya yang berusaha keras dalam program hamil sementara suami enggan untuk memeriksakan diri ke dokter. Perencanaan kehamilan harus dilakukan oleh kedua belah pihak, sehingga cek kesuburan pria menjadi sama pentingnya dengan wanita.    

Sebagai gambaran, ada beberapa jenis ketidaksuburan yang umum dialami oleh para pria. Beberapa di antaranya adalah: [2]–[5]

  • Aspermia: tidak adanya air mani (semen) dan sperma sama sekali
  • Azoospermia: tidak adanya sperma di dalam air mani
  • Asthenozoospermia: sperma memiliki motilitas atau pergerakan yang lemah
  • Leucocytospermia: Tingginya jumlah sel darah putih dalam air mani
  • Necrozoospermia: Semua sperma mati dan tidak bergerak
  • Oligozoospermia: Jumlah sperma yang sangat rendah (di bawah 15 juta/mL semen)
  • Teratozoospermia: Bentuk dan ukuran sperma yang tidak normal

Ketidaksuburan pada pria bisa disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya adalah gangguan hormon, disfungsi seksual, gangguan pada sistem kekebalan tubuh, fluktuasi suhu, pola makan dan aktivitas fisik, paparan racun dan zat berbahaya dari lingkungan (seperti rokok, alkohol, dan radiasi), obat-obatan, dan masih banyak lagi [6], [7]. Salah satu atau gabungan dari faktor-faktor tersebut dapat memicu produksi sperma yang abnormal yang kemungkinan baru bisa terlihat setelah dilakukan cek kesuburan pria.  

Lantas, seperti apa proses cek kesuburan pria di dokter? Dokter umumnya akan merekomendasikan analisis semen atau air mani. Pria diminta mengeluarkan semen di dalam wadah setelah puasa berhubungan intim selama sekitar 2-7 hari. Setelah sampel diambil, laboratorium umumnya akan melakukan analisis sesuai referensi standar badan kesehatan dunia (WHO) seperti: persentase sperma dalam air mani, persentase sperma yang menunjukkan pergerakan, dan proporsi antara sperma yang berbentuk normal dengan yang tidak normal [7]. Seperti sudah disampaikan sebelumnya, jumlah sperma yang dianggap normal adalah 15 juta per mililiter semen sesuai standar WHO [8]. Pergerakan sperma dianggap normal jika jumlah sperma yang bergerak ada di atas 63% [9]. Kemudian dari sisi morfologis, jumlah sperma yang bentuknya normal idealnya berada di atas angka 12%. Selain tiga kriteria di atas, dokter mungkin akan memberlakukan analisis lain yang dirasa dibutuhkan.

Bagaimana, Ladies? Sudahkah suami menjalani proses cek kesuburan pria? Jika belum, sampaikanlah agar ia mau memeriksakan diri ke dokter. Ladies juga bisa meminta bantuan keluarga terdekat atau dokter untuk meyakinkan suami. Di sisi lain, Ladies juga bisa memanfaatkan aplikasi Wilov di ponsel untuk memantau kesuburan Ladies sendiri. Aplikasi Wilov dilengkapi dengan kalender masa subur dan menstruasi sehingga Ladies bisa melihat keteraturan periode menstruasi serta memprediksi tanggal ovulasi. Selain itu, aplikasi Wilov juga menyediakan informasi dan tips penting seputar perencanaan kehamilan dan nutrisi untuk mendukung program hamil. Tunggu apa lagi? Download Wilov secara gratis di App Store dan Google Play Store sekarang juga. 

 

Referensi

[1] A. Agarwal, A. Mulgund, A. Hamada, and M. R. Chyatte, “A unique view on male infertility around the globe,” Reprod. Biol. Endocrinol., vol. 13, no. 1, Dec. 2015, doi: 10.1186/S12958-015-0032-1.

[2] “Aspermia (Concept Id: C1704202) – MedGen – NCBI.” https://www.ncbi.nlm.nih.gov/medgen/352809 (accessed Jan. 25, 2022).

[3] “Oligospermia – an overview | ScienceDirect Topics.” https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/oligospermia (accessed Jan. 25, 2022).

[4] “Asthenozoospermia – an overview | ScienceDirect Topics.” https://www.sciencedirect.com/topics/veterinary-science-and-veterinary-medicine/asthenozoospermia (accessed Jan. 25, 2022).

[5] A. Hirsh, “ABC of subfertility: Male subfertility,” BMJ  Br. Med. J., vol. 327, no. 7416, p. 669, Sep. 2003, doi: 10.1136/BMJ.327.7416.669.

[6] S. W. Leslie, L. E. Siref, T. L. Soon-Sutton, and M. A. Khan, “Male Infertility,” StatPearls, Aug. 2021, Accessed: Jan. 25, 2022. [Online]. Available: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562258/.

[7] A. Khatun, M. S. Rahman, and M. G. Pang, “Clinical assessment of the male fertility,” Obstet. Gynecol. Sci., vol. 61, no. 2, p. 179, Mar. 2018, doi: 10.5468/OGS.2018.61.2.179.

[8] T. G. Cooper et al., “World Health Organization reference values for human semen characteristics * ‡,” Adv. Access Publ. Novemb., vol. 16, no. 3, pp. 231–245, 2010, doi: 10.1093/humupd/dmp048.

[9] A. S. Patel, J. Y. Leong, and R. Ramasamy, “Prediction of male infertility by the World Health Organization laboratory manual for assessment of semen analysis: A systematic review,” Arab J. Urol., vol. 16, no. 1, p. 96, Mar. 2018, doi: 10.1016/J.AJU.2017.10.005.

Leave a comment